Menziarahi Makam Para Sultan Pejuang Islam di Banda Aceh

Banda Aceh, kota paling utara dan paling barat di Kepulauan Nusantara. Dengan letak geografis yang demikian strategisnya, Banda Aceh menjadi pintu masuk paling depan memasuki wilayah kepulauan Asia Tenggara. Ketika Islam lahir di jazirah Arab dan kemudian menyebar ke segala penjuru, wilayah Nusantara yang berkepulauan hanya bisa dicapai melalui jalur laut, dan salah satu kota yang pertama kali disinggahi oleh orang-orang Islam adalah kota Banda Aceh.

Hasil dari perjuangan para pendakwah Islam ini pada akhirnya berhasil mengubah Kerajaan Lamuri menjadi sebuah kerajaan Islam dengan sultannya yang pertama yaitu Meurah Johan yang memimpin pada tahun 1205 M. Jejak kerajaan Lamuri ini bisa kita saksikan di Gampong Pande, di mana titik awal berdirinya Kota Banda Aceh terletak.

Plakat Tanda Berdirinya Kota Banda Aceh di Gampong Pande

Plakat Tanda Berdirinya Kota Banda Aceh di Gampong Pande

Baca Lanjutannya…

Jasa Mesir untuk Aceh

Baru saja membuka buku-buku dan artikel-artikel mengenai sejarah hubungan Mesir dengan Aceh. Ternyata banyak juga peran Mesir terhadap Aceh. Mesir memang lebih jarang disebut dibandingkan Arab, India atau Turki. Hal ini dikarenakan saat itu Mesir termasuk wilayah kekuasaan Turki Usmani dari tahun 1517 – 1867. Berikut beberapa yang tercatat:

1.    Pada masa sultan Alauddin Ri’ayat Syah Al-Qahhar yaitu pada tahun 1566-1571, Aceh meminta bantuan Turki untuk menghadapi Portugis di Selat Malaka. Saat itu Mesir berada di bawah Kesultanan Turki Usmani. Rombongan Aceh yang berjumlah sangat besar di bawah pimpinan Huseyin Effendi telah dijamu secara mewah di Istanbul dan Mesir. Setiap harinya mereka dijamu dengan 70 potong roti, 3 kotak madu bunga, 3 oke gula, 4 oke mentega, 4 oke madu, 1,5 kg beras, 3 ekor ayam, 3 ekor domba besar (1 oke = 1.2829 kg).

Sultan Selim II telah mempersiapkan armada perang yang besar terdiri dari angkatan laut yang berasal dari Turki dan para tentara dari  Mesir. Armada tersebut terdiri dari 19 galley (kapal layar perang) dan 2 galeon (jenis galley besar). Seluruh bala bantuan untuk Aceh dipusatkan di Mesir. Nama panglima Turki saat itu adalah Kurtoglu Hizir Reis yang merupakan mantan laksamana di Iskandariyyah (Alexandria). Sebagai wakilnya dipilih Mahmud Reis, laksamana dari Suez.
Baca Lanjutannya…

Éleumèë Siribèë Jén – Ilmu Seribu Jin

Pada tanggal 23 Juni 2013 yang lalu, saya menghadiri acara intat lintô salah seorang sanak saudara. Dalam acara tersebut saya berjumpa dengan 2 orang adik kakek saya yang sudah berusia 70 tahun lebih. Salah seorang di antaranya adalah seorang pelaut yang pernah bekerja di kapal selama puluhan tahun. Saya baru mengenal beliau dan saya memanfaatkan kesempatan ini dengan bertanya mengenai pengalaman beliau selama bekerja di laut.

Banyak cerita menarik dari beliau bagi saya pribadi. Tetapi dalam tulisan ini saya hanya ingin menceritakan pengetahuan beliau yang berhubungan dengan keacehan dan selayaknya disebarluaskan berhubung selama ini saya belum pernah mendapatkan tulisan mengenai hal tersebut atau barangkali saya kurang membaca ya? Hmmm..😀

Baca Lanjutannya…

Boh Peunè Aram, kuliner kematian dari Aceh Besar

Tanggal 28 Desember 2013 yang lalu, saya menghadiri fardhu kifayah penguburan jenazah abang sepupu yang meninggal dunia di Seulimeum, Aceh Besar (allaahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihii wa’fu’anhu). Setelah penguburan jenazah yang selesai pada siang hari, kami semua dijamu oleh keluarga di kampung untuk makan siang.

Dikarenakan kenduri ini berhubungan dengan kematian, maka dilaksanakan secara sederhana dan jauh dari kemewahan. Menu yang disediakan merupakan menu-menu sederhana seperti kuah ôn ubi geupeuleumak (sayur santan daun ubi), karéng geudhèk (tumis teri), telur sambalado, ikan asin, sambal goreng teri tempe, kerupuk dan boh peunè aram.

Boh peunè aram??

Baca Lanjutannya…

Perang Aceh – Belanda, Perang Terbesar Belanda di Nusantara

Cukup banyak tulisan tentang Aceh dan rakyatnya yang ditulis orang-orang asing – terutama Belanda – sejak dikenal mereka dan apada umumnya dalam konteks peperangan dengan menonjolkan kepahlawanan di pihak mereka.

Ketika perang kolonial Belanda di Aceh hampir memasuki seperempat abad, Letnan Kolonel infantri purnawirawan G.B. Hooijer – pernah bertugas di Aceh – menulis dalam ikhtisar umum bukunya De Krijgsgeschiedenis van Nederlansch Indië van 1811 tot 1894, jilid III (terakhir, setebal 480 halaman), tahun 1895, pada halaman 5 sebagai berikut:

“Tidak ada pasukan Dipo Negoro atau Sentot, baik orang-orang Padri yang fanatik maupun rombongan orang-orang Bali atau massa berkuda orang-orang Bone, seperti yang pernah diperagakan oleh para pejuang Aceh yang begitu berani dan tak takut mati menghadapi serangan, yang begitu besar menaruh kepercayaan pada diri sendiri, yang sedemikian gigih menerima nasibnya, yang cinta kemerdekaan, yang bersikap sedemikian fanatik seolah-olah mereka dilahirkan untuk menjadi gerilyawan bangsanya.

Oleh sebab itu perang Belanda di Aceh akan tetap menjadi sumber pelajaran bagi pasukan kita.

Dan karena itu pula saya menganggap tepat sekali jika jilid III atau terakhir sejarah perang (Belanda di Hindia Belanda) itu seluruhnya saya peruntukkan guna menguraikan peperangan di Aceh”.

 

 Sumber: Kata Pengantar oleh Aboe Bakar dalam terjemahan buku Atjeh karangan H.C. Zentgraaf

Suku Singkil

Tulisan ini adalah sebuah komentar yang ditulis oleh Bapak Mulyadi Kombih dalam sebuah diskusi di salah satu grup Facebook. Saya salin ulang mengingat informasinya sangat berharga dan masih jarang dijumpai di internet. Tulisan ini sudah disunting dari segi penulisannya dan tidak menghilangkan isi kandungannya

Setiap sebutan Suku Singkil muncul di FB, selalu menimbulkan polemik yang berkepanjangan, bahkan terkadang tidak berujung. Munculnya sebutan Suku Singkil seolah-olah ada sebuah Suku baru yang muncul ke permukaan, atau ada anggapan jika Singkil merupakan kelompok sempalan dari etnis yang selama ini mengklaim sebagai sub etnisnya. Anehnya polemik ini hanya timbul di wilayah Tanoh Singkil saja.

Sejak lebih seratus tahun yang lalu buyut kami dari Tanoh Singkil bermigrasi ke Tanoh Alas selalu menyebut jika mereka Suku Singkil. Mereka dan generasi penerusnya hingga kini di Tanoh Alas tidak pernah mengenal sebutan Suku Boang, Suku Kampong maupun Suku Pakpak Boang. Jikalau pun ada istilah Kalak Boang di sana, itu semata-mata ditujukan bagi orang yang mengaku Suku Singkil, namun tidak mengenal lagi asal-usul dan akar budayanya. 100% buyut kami yang mengaku Suku Singkil tersebut adalah orang-orang yang bermigrasi ke Tanoh Alas tanpa pernah meminjakkan kaki di Singkil (dalam pengertian sempit sekarang, yang hanya meliputi Pulo Sarok, Pasar, Ujung dan Kilangan). Hal ini juga didapati pada 2 Tokoh Singkil, yakni Syeikh Hamzah Fansury Al Singkily dan Syeikh Abdurrauf As Singkily, kedua tokoh ini tidak atau bukan lahir di Singkil (dalam pengertian sempit sekarang). Belum pernah Saya temukan literatur yang menyatakan salah satu atau kedua tokoh ini lahir di Singkil atau setidaknya pernah menetap di Singkil. Hamzah Fansury membuka pesantren di Tumakal, di aliran sungai Lae Suraya (atau Kr. Simpang Kiri jika dalam peta lama) setelah mengembara kemana-mana akhirnya menetap dan wafat di Oboh, Kec Runding – Kota Subulussalam. Sedangkan Sheikh Abdurrauf lahir di Serasah di aliran sungai Lae Cinendang (atau Kr. Simpang Kanan jika dalam peta lama), dan terakhir menetap di Kutaraja. Zaman mereka, bahkan hingga awal 1980-an Singkil itu meliputi seluruh eks Kabupaten Aceh Singkil (termasuk Kota Subulussalam).

Baca Lanjutannya…

Hikayat Prang Sabi

Hikayat Prang Sabi adalah suatu karya sastra dalam sastra Aceh yang berbentuk hikayat yang isinya membicarakan tentang jihad baik naskah tersebut berjudul Hikayat Prang Sabi ataupun tidak.

Jenis

Hikayat Prang Sabi terdiri dari dua genre, yaitu genre tambeh (Ar. tambih, peringatan, nasihat) dan genre epos.

Hikayat Prang Sabi jenis ”tambeh” kebanyakan ditulis oleh para ulama yang berisi nasihat, ajakan dan seruan untuk terjun ke medan jihaad fii sabilillaah, menegakkan agama Allah dari rongrongan kafir dan meraih imbalan pahala yang besar.

Hikayat Prang Sabi jenis tambeh terawal berjudul Haadzihi Qishshah Nafsiyyah (Cod. Or. 8667, UBL) berupa saduran dari risalah Syaikh Abdus Samad al-Falimbani berjudul Nashihatul Muslimin (merupakan naratif induk bagi teks genre tambeh). Saduran tersebut ditulis pada tahun 1834 hampir 40 tahun sebelum Perang Aceh pecah, sedangkan karya pertama yang berjudul Hikayat Prang Sabi adalah karya Teungku Chik Pante Kulu yang ditulis atas permintaan ‘cut abang’-nya (kakandanya). Mungkin sekali orang itu adalah Teungku Chik di Tiro karena pada tahun 1881 mujahid ini diangkat menjadi panglima perang sabilillah, sedangkan Teungku Chik Pante Kulu sendiri merupakan tangan kanannya.

Sedangkan Hikayat Prang Sabi jenis epos melukiskan peristiwa perang yang berlangsung di berbagai tempat di Aceh. Dilukiskan keberanian dan keperkasaan perlawanan para pejuang hingga tewas sebagai syuhada. Kisah-kisah kepahlawanan itu lalu dinukilkan dalam bentuk epos, seperti Hikayat Prang Sigli (1878), Hikayat Prang Geudong (1898) dan lain-lain.

 

Sumber

* Abdullah, Teuku Imran. 2008. Hikayat Prang Sabi: Satu Bentuk Karya Sastra Perlawanan.Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta (http://lib.ugm.ac.id/digitasi/upload/2577_pp110600018.pdf)

 

Bacaan lebih lanjut

* Alfian, T. Ibrahim. 1992. Sastra Perang : sebuah pembicaraan mengenai Hikayat Perang Sabil. Jakarta: Balai Pustaka (http://acehbooks.org/pdf/ACEH_03186.pdf)
* Anonymous. Naskah Hikayat Prang Sabi (http://acehbooks.org/pdf/ACEH_00304.pdf)
* Hasjmy, Ali. 1977. Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agressi Belanda. Jakarta: Bulan Bintang (http://www.acehbooks.org/pdf/ACEH_02062.pdf)
* Pante Kulu, Teungku Chik. 1946. Hikayat Prang Sabi. Banda Aceh: Abdullah Arif (http://acehbooks.org/pdf/ACEH_03452.pdf)
* Zainuddin, H. M. 1960. Hikajat Prang Sabil. Medan: Pustaka Iskandar Muda (http://acehbooks.org/pdf/ACEH_03193.pdf)